Friday, June 23, 2006

Beribu maaf,
bila tutur ini bagai latuk
yang mengoyak;
menoreh luka perih tanpa darah
membuatmu jelut

Maaf,
bila lidah ini lampas
Beribu maaf, sungguh.

16/06/06

ps. mobil mogok.... hahaha... btw,makasih ya
Siapakah yang gurat lelah wajahnya
binarkan cahaya?
Untuknya, kulepas doa
dalam untaian wirid mengangkasa
agar gaung berjuta malaikat yang mengamini
sejukkan bumi.

15/06/06

ps. Buat tante, met ulang tahun ya ^_^

Risau

Risau ini
menggumuli jiwa
datang kala pekat merajah sunyi
disela pedar nujum yang bosan
Ooo Risau ini
adalah beribu serpih runcing kaca
yang menoreh wajah beku
tikam hati
rajam tubuh
Ooo Risauku ini
adalah gundah petikan sajak syair tersusun
diluar rengkuh kata;
adalah gelisah penyair sepi
yang takut akan luka

15/06/06

Monday, June 12, 2006

ARAL

Ooo kasih,
jalan janji ini terjal berliku
dengan hamparan beribu duri
menguji;
mereka sebagai aral
yang tempa kita kukuh.
bukan gerogot rayap
yang buat kita lotak.

12/06/06
Sekuncup kembang surga,
terselip dalam jemari buku bumi
ia merona, saat malam tadi
mahkotanya merekah sempurna
menjelma sajak!
Selayak tembang kidung bidadari
menidurkan sejuta perih tubuh
laun, tetes darah mewangi.

Ada sekuncup kembang surga,
terselip dalam jemari buku hati
adalah kamu,
yang merona,
saat mahkotamu merekah sempurna!

05-05-06

ps. untuk kembang surgaku yang merekah sempurna

Thursday, January 19, 2006

Puisi Seorang Penulis

aku tak mau dicap sebagai seorang tiran,
diludahi karya-karya sendiri.
maka kutanya tiap-tiap tokoh novelku satu-satu,
engkau ingin menjelma seperti apa?
katakan, biar kutuntun langkahmu menuju sana.

20/01/06
seorang lelaki membisiki angin, ia jatuh cinta
pada seorang gadis yang memutuskan untuk tinggal
di lorong-lorong gelapnya yang penuh liku;
mencoba mengeja misteri dengan hati.

ia jatuh cinta,
pada bayang sosokmu.

19/01/06

Perbincanganku Dengan Tokoh Novel

1.
tawa renyahmu pecah pada lembaran muka
bernafas dalam kertas-kertas muram
yang beratus-ratus jumlahnya menebal buku
sebagai hidupmu yang kucemburui tiap malam;
Kisahmu bagai kepak elang
yang menari bebas meludahi dahan
terbang mengepak menari dalam tinta hitam
Ada duka disitu,
yang kau telan dalam tulus senyum

aku ingin menjelmamu!
yang berenang dalam uraian rangkai kata
memerangi hidup hingga halaman terakhir
dan habis cerita.
Tangismu tak basah, tawamu tak bising
dalam hening, emosiku diombang-ambing
meranggas airmata dan lepas tawa bergantian

2.
Ah kau mengada-ngada pekikmu tiba-tiba
aku adalah bidak nasib yang ditulis tanpa persetujuanku
hidupku tanpa pilihan,
terkungkung dalam jeruji buku.
mirip dengan penjara mayamu.

19/01/06

Thursday, January 12, 2006

malam-malamku

Malam-malamku masih terasa memanjang panjang
sebagai gundah yang membuat lelap terjaga

dan masa lalu mengejar dari balik bangunan tua;
kau masih saja berlari membawa luka,
katanya merajang
sesaat sebelum bilangan senja
membunuhku dengan cecaran belati.


12/01/06

Wednesday, January 04, 2006

bening matamu
membendung tangis
pedar hatimu sayang,
bolehkah kuseka
dengan jemari puisi?
ataukah rengkuhnya juga
kau anggap nista?

04/01/06

Tuesday, January 03, 2006

Bantu Aku Bungkam Iblis Tua

suara-suara itu seperti menalamkan sajak-sajak setan Ne,
dalam tuduhan-tuduhannya yang sangat mungkin benar
ia selalu turun bersama keremangan kabut senja
dan menggaduh kala malam kian pekat.
Ah...
Dimana lagi harus kucari ketenangan?
jika kesendirianku masih saja dicuri iblis tua.
Ooo Tuhan... dimana lagi kuharus temukan keramaian?
kala di tengah pasar, sunyi justru mencekam.

suara-suara itu seperti menalamkan sajak-sajak setan Ne,
memuntahkan berjuta dakwa yang mencerca, dan sangat mungkin,
benar adanya
ia mengancam! tak kan lagi menunggu senja untuk datang
Ne... pinjamkan kedua tanganmu; bantu tangan-tanganku
tutupi telingaku!

Sungguh,
suara-suara itu
seperti menalamkan
sajak-sajak setan Ne,

pinjamkan tanganmu!
satu saja!
bantu aku bungkam iblis tua!!!

03/01/06

Pada Untaian Huruf, Aku Akan Terus Bercerita

Tolong, jangan kejar aku dengan seribu pertanyaan berderai;
aku sendiri masih punya sejuta pertanyaan tak terjawab!
yang menari dalam benak, mengusik malam-malamku.
Senyum saja dalam penantian
karena suatu hari nanti, aku akan penuhi hakmu
untuk mengerti.
atau,
jika kesabaran tanpa batasmu membentur tapal,
kan kulepas rajutan doa terindah saat pedar senyummu
berpaling memendar redup.
dan aku akan terus bercerita pada untaian huruf
biar hanya mereka yang tahu, renjanaku untukmu
menghampar seluas semesta.

03/01/06

"Buat Mereka Mengerti"

Semalam, bayang mimpi buruk kian nyata
seperti sosok menjelma dalam bayang kelam redup
Berteriak gaduh ludahi senyap! Bising!
pernah kucoba tutupi telinga dengan tangan,
namun gaungnya makin mendera memekak di kepala
"ambil belati,
buat mereka mengerti"

samar,
kulihat tubuh ringkihku berdebam jatuh
bersimbah darah mengental
lalu mataku menangkap senyum sosoknya!

01/01/06

Sunday, December 25, 2005

Aku Terjerat

Aku seperti terjerat jaring galagasi
menunggu mati!
karena tiap gerik ronta
buat diri makin terbelit benang kusut.

24/12/05