1.
tawa renyahmu pecah pada lembaran muka
bernafas dalam kertas-kertas muram
yang beratus-ratus jumlahnya menebal buku
sebagai hidupmu yang kucemburui tiap malam;
Kisahmu bagai kepak elang
yang menari bebas meludahi dahan
terbang mengepak menari dalam tinta hitam
Ada duka disitu,
yang kau telan dalam tulus senyum
aku ingin menjelmamu!
yang berenang dalam uraian rangkai kata
memerangi hidup hingga halaman terakhir
dan habis cerita.
Tangismu tak basah, tawamu tak bising
dalam hening, emosiku diombang-ambing
meranggas airmata dan lepas tawa bergantian
2.
Ah kau mengada-ngada pekikmu tiba-tiba
aku adalah bidak nasib yang ditulis tanpa persetujuanku
hidupku tanpa pilihan,
terkungkung dalam jeruji buku.
mirip dengan penjara mayamu.
19/01/06